Hilirisasi SDA Nasional, Bahlil Prioritaskan Kepentingan Negara

KILASNETWORK.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia harus mengutamakan kepentingan negara. Pernyataan ini disampaikan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo dalam percepatan proyek hilirisasi nasional.

Bahlil menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada kegiatan ‘Penandatanganan Framework Agreement Konsorsium ANTAM-IBI-HYD dalam Rangka Pengembangan Ekosistem Baterai Terintegrasi’ di Kantor ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026). Ia menekankan bahwa proyek ekosistem baterai di Indonesia mayoritas melibatkan BUMN, dengan ANTAM sebagai pemegang saham utama, dan harus berlandaskan Pasal 33 UUD 1945 demi kepentingan bangsa dan negara.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam kita, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara. Namun dalam proses industrinya, kita juga sadar masih membutuhkan bantuan dari negara lain,” ujarnya.

Bahlil mengakui bahwa Indonesia masih memerlukan dukungan luar negeri dalam hal teknologi, pasar, dan manajemen profesional. Ia menegaskan bahwa kolaborasi internasional tetap diperlukan selama memberikan manfaat lebih besar bagi negara.

BACA JUGA  KAI Services Jajaki Kerja Sama dengan Sari Roti untuk Perluas Varian Kuliner

Selain itu, Menteri ESDM menekankan pentingnya nilai tambah maksimal dari investor dan keterlibatan pengusaha lokal. Ia meminta tenaga kerja dalam negeri menjadi prioritas selama mampu menangani pekerjaan di dalam negeri.

“Pakai tenaga kerja mereka, jangan bawa dari luar lagi, karena kita ingin negara kita berdaulat untuk kepentingan bangsa dan negara. Yang bisa dikerjakan di dalam negeri, gunakan tenaga kerja lokal; yang tidak bisa, baru ambil dari luar,” jelasnya.

Bahlil menambahkan, lokasi pembangunan fasilitas baterai mobil akan berada di Jawa Barat, sementara smelter, prekursor, dan kawasan industri akan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Menteri ESDM menilai proyek ini membuka peluang bagi Indonesia menjadi negara kedua setelah China yang membangun ekosistem baterai terintegrasi, mendukung produksi baterai kendaraan listrik dan panel surya buatan lokal. (OUR)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News