KILASNETWORK.COM – Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya mencatat sejarah di atas lapangan hijau, tetapi juga menjadi turnamen paling menguntungkan secara finansial. FIFA membukukan pendapatan sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp244 triliun, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan ajang sepak bola terbesar di dunia.
Nilai tersebut melampaui target awal FIFA sebesar US$11 miliar, atau sekitar 36 persen lebih tinggi dari proyeksi yang sebelumnya ditetapkan.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan capaian tersebut kepada seluruh asosiasi anggota FIFA pada Sabtu (18/7/2026) waktu setempat. Menurutnya, keberhasilan komersial Piala Dunia 2026 menunjukkan semakin besarnya nilai ekonomi turnamen sepak bola dunia.
Lonjakan pendapatan terutama didorong tingginya penjualan tiket pertandingan dan paket hospitality. Antusiasme suporter dari berbagai negara membuat permintaan tiket jauh melampaui jumlah yang tersedia, sehingga turut meningkatkan aktivitas transaksi di pasar sekunder.
Melalui mekanisme penjualan resmi tersebut, FIFA memperoleh komisi sebesar 15 persen dari pembeli dan 15 persen dari penjual pada setiap transaksi tiket di pasar sekunder. Skema ini menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap pendapatan organisasi selama turnamen berlangsung.
Selain tiket reguler, FIFA juga memaksimalkan pemasukan dari paket layanan premium bagi penonton. Hingga Sabtu malam waktu setempat, FIFA masih menawarkan paket hospitality untuk laga final antara Spanyol dan Argentina di New Jersey, Amerika Serikat.
Paket paling eksklusif, Trophy Lounge, dipasarkan dengan harga US$34.500 atau sekitar Rp561 juta per orang. Nilai tersebut menjadikannya salah satu tiket pertandingan sepak bola termahal yang pernah dijual FIFA.
Besarnya pendapatan tersebut diperkirakan akan berdampak pada peningkatan dana yang disalurkan kepada asosiasi sepak bola anggota FIFA melalui berbagai program pengembangan. Namun hingga kini, FIFA belum mengumumkan secara resmi mekanisme pembagian tambahan pendapatan tersebut.
Rekor pemasukan ini juga memperkuat posisi Gianni Infantino di tengah sejumlah kontroversi yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Salah satu polemik yang mencuat adalah kritik terhadap FIFA yang dinilai mengikuti tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pencabutan kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, saat menghadapi Paraguay pada babak 16 besar.
Meski demikian, Infantino disebut telah memperoleh dukungan dari lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA untuk kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada pemilihan mendatang. Rekor pendapatan Piala Dunia 2026 dipandang menjadi salah satu modal penting yang semakin menguatkan posisinya.
Amerika Serikat Berpeluang Jadi Tuan Rumah Lagi
Keberhasilan komersial Piala Dunia 2026 juga membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk kembali menjadi tuan rumah turnamen FIFA pada masa mendatang.
Piala Dunia 2038 masih memasuki tahap awal proses pencalonan tuan rumah. Dalam sebuah acara penyambutan pada Jumat (17/7/2026), Presiden Donald Trump secara terbuka mengajak FIFA kembali memilih Amerika Serikat sebagai penyelenggara.
“Anda seharusnya memilih Amerika Serikat lagi. Kali ini kami akan meninggalkan Kanada dan Meksiko,” ujar Trump.
Selain mengincar penyelenggaraan Piala Dunia 2038, Amerika Serikat juga dikabarkan telah berdiskusi dengan FIFA mengenai peluang menjadi tuan rumah Piala Dunia Antarklub 2029.
Rekor pendapatan Piala Dunia 2026 menegaskan bahwa ajang sepak bola paling bergengsi di dunia kini telah berkembang menjadi aset bisnis global bernilai ratusan triliun rupiah. Di luar hak siar dan sponsor, penjualan tiket, layanan hospitality, dan paket premium menjadi sumber pertumbuhan baru yang semakin memperkuat fondasi finansial FIFA. (WKP)




