KILASNETWORK.COM – Ketegangan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia kembali memanas. Pemerintah China bersiap mengambil langkah balasan atas rencana Amerika Serikat (AS) yang berencana mengenakan tarif tambahan sebesar 7,5% terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
Jika kebijakan tersebut resmi diberlakukan, total beban tarif AS atas barang impor dari China akan melonjak hingga sekitar 20%, dari posisi saat ini sebesar 12,5%. Washington bergeming dengan rencana ini menyusul tudingan mengenai kelebihan kapasitas manufaktur (excess manufacturing capacity) di China yang dinilai berpotensi merusak pasar global.
Juru Bicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, mengecam keras wacana tersebut dan menilai AS telah menggunakan isu ekonomi untuk kepentingan politik sepihak.
“AS telah mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan, yang merupakan tindakan nyata dari unilateralisme dan proteksionisme. China dengan tegas menentang hal ini,” tegas Huang Ling, dikutip dari Anadolu, Senin (31/8/2026).
Huang menambahkan bahwa Beijing tidak akan tinggal diam dan siap mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingan negaranya.
“Kami akan terus memantau secara ketat dan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah AS selanjutnya, serta mempertahankan hak kami untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” lanjutnya.
Sengketa Isu Kapasitas Manufaktur
Perselisihan ini dipicu oleh hasil investigasi Section 301 oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) pada Maret lalu. Investigasi tersebut menyoroti praktik manufaktur China beserta 15 negara mitra dagang lainnya—termasuk Indonesia, Uni Eropa, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Washington menilai kapasitas produksi berlebih dari China berpotensi membanjiri pasar global dengan produk murah.
Namun, China menolak mentah-mentah tuduhan tersebut. Beijing berargumen bahwa kapasitas industri tidak boleh dinilai hanya dari perbandingan produksi dan konsumsi domestik saja, melainkan harus memperhitungkan dinamika permintaan pasar global secara menyeluruh.
Ancaman Eskalasi Perang Dagang Global
Saling gertak antara Washington dan Beijing ini berisiko memperburuk rantai pasok dan memicu peningkatan biaya perdagangan global. Sengketa kedua negara kini tidak lagi sekadar urusan bea masuk, tetapi telah meluas ke ranah persaingan daya saing industri dan dominasi rantai pasok global.
Keputusan final AS terkait tarif tambahan 7,5% ini akan menjadi penentu utama apakah perang dagang jilid baru akan kembali meletus atau justru mereda. (PJA)




