KILASNETWORK.COM – Kasus Covid-19 di Singapura kembali mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDA), jumlah kasus Covid-19 pada periode 10 hingga 16 Mei 2026 mencapai 12.700 kasus atau meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sekitar 8.000 kasus.
Dalam pernyataan resminya pada 21 Mei 2026, CDA juga melaporkan rata-rata rawat inap harian akibat Covid-19 naik dari 56 menjadi 73 pasien. Sementara kasus yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif (ICU) tercatat rata-rata satu kasus per hari.
“Seperti halnya penyakit pernapasan endemik lainnya, gelombang Covid-19 periodik diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun,” demikian pernyataan CDA yang dikutip dari The Straits Times, Rabu (27/5/2026).
Meski terjadi peningkatan kasus, otoritas kesehatan Singapura menegaskan belum ada indikasi varian yang beredar saat ini lebih menular atau menyebabkan gejala lebih parah dibandingkan varian sebelumnya.
CDA menyebut lonjakan kasus kemungkinan dipengaruhi menurunnya kekebalan populasi. Saat ini, varian NB.1.8.1 menjadi strain dominan di Singapura dan menyumbang lebih dari separuh kasus yang berhasil diurutkan secara lokal.
Kenaikan kasus di Singapura turut mendorong pemerintah Thailand meningkatkan kewaspadaan. Varian NB.1.8.1 juga disebut telah menjadi strain dominan di negara tersebut.
Direktur Jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Montien Kanasawat, mengatakan hingga 23 Mei 2026 Thailand mencatat 3.642 kasus kumulatif Covid-19 dengan satu kematian sejak awal tahun.
Menurutnya, NB.1.8.1 merupakan turunan dari varian JN.1 dengan sejumlah mutasi tambahan pada protein spike virus yang berpotensi membuat virus lebih mudah menular dan lebih mampu menghindari kekebalan tubuh.
Data Institut Penelitian Kesehatan Masyarakat Thailand menunjukkan varian NB.1.8.1 mendominasi dengan persentase 50,95 persen dari total sampel yang dianalisis sepanjang Januari 2025 hingga April 2026. Sementara varian JN.1 tercatat sebesar 24,97 persen dan XEC sebesar 9,14 persen.
Selain Thailand, Malaysia juga meningkatkan pengawasan kesehatan menyusul lonjakan kasus di Singapura. Kementerian Kesehatan Malaysia menyebut situasi Covid-19 di negaranya masih terkendali dan menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.
Hingga 19 Mei 2026, jumlah kasus Covid-19 di Malaysia tercatat turun 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah Malaysia juga memastikan belum ada laporan kematian akibat Covid-19 tahun ini.
“Sebagian besar kasus yang dilaporkan hanya melibatkan gejala ringan yang tidak memerlukan perawatan di rumah sakit,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Malaysia.
Pemerintah Malaysia juga terus memperkuat pengawasan di pintu masuk internasional dan melakukan pengurutan genom guna mendeteksi potensi penyebaran subvarian baru.
Sementara itu di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI melaporkan adanya tambahan dua kasus baru Covid-19 pada pekan ketiga Mei 2026.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, mengatakan kedua kasus tersebut berasal dari DKI Jakarta dan Sulawesi Tenggara.
“Dengan tambahan tersebut, total kasus konfirmasi Covid-19 di Indonesia sepanjang 2026 mencapai 121 kasus tanpa adanya laporan kematian,” ujarnya.
Aji menegaskan, varian Covid-19 yang saat ini dominan di Indonesia masih tergolong risiko rendah dan kondisi nasional tetap terkendali.
Meski demikian, pemerintah meminta masyarakat tetap waspada menyusul kenaikan kasus di sejumlah negara Asia.
“Masyarakat tidak perlu panik dengan kejadian di Singapura, namun tetap waspada dengan mengikuti perkembangan kasus global dan nasional serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat,” kata Aji. (KZQ)




