KILASNETWORK.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Australia sepakat untuk memperkuat kemitraan strategis dalam manajemen risiko bencana melalui Program SIAP SIAGA. Komitmen tersebut dibahas secara mendalam dalam pertemuan antara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dengan perwakilan Pemerintah Australia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Senin (15/6/2026).
Gubernur Khofifah menegaskan bahwa kunci utama dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana adalah kolaborasi lintas sektor serta penguatan kesiapsiagaan dari akar rumput, khususnya di tingkat kecamatan dan desa.
“Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa,” ujar Khofifah menekankan pentingnya pelibatan relawan yang terlatih.
Tiga Strategi Utama Penguatan Mitigasi Bencana di Jatim
Dalam pertemuan tersebut, Pemprov Jatim mendorong tiga langkah konkret untuk mengoptimalkan manajemen risiko bencana di lapangan:
1. Pelatihan Relawan Tingkat Desa dan Kecamatan: Memastikan setiap wilayah rawan memiliki SDM yang siap dan terlatih untuk melakukan tindakan preventif maupun respons cepat saat terjadi bencana.
2. Pembentukan Lumbung Sosial: Khofifah mendorong hadirnya Lumbung Sosial di setiap Desa Tangguh Bencana (Destana). Fasilitas ini berfungsi untuk menjamin ketersediaan logistik pangan serta peralatan darurat yang mudah diakses oleh masyarakat setempat saat situasi kritis.
3. Pengembangan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA): Mengingat banyak bangunan pondok pesantren yang berada di lokasi berpotensi terdampak bencana, Khofifah menilai klaster ini memerlukan kapasitas mitigasi yang memadai.
“Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi tangguh. Lalu, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu,” tambah Gubernur Jatim.
Senada dengan Gubernur, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa lingkungan pesantren memiliki tingkat kerentanan yang khas. “Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu lama di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana,” jelas Gatot.
Apresiasi dari Pemerintah Australia dan SIAP SIAGA
Langkah proaktif Pemprov Jatim ini mendapat apresiasi positif dari tim Program SIAP SIAGA. Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA, Deswanto Marbun, menilai masukan dari Gubernur Khofifah sangat strategis.
“Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran,” kata Deswanto.
Di sisi lain, Plt. Wakil Konsul-Jenderal Australia di Surabaya, Will Lee, menegaskan bahwa kerja sama penanggulangan bencana ini merupakan simbol kuatnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. Ia mengenang kembali momen emosional saat kedua negara saling bahu-bahu dalam penanganan kebakaran hutan hebat di Australia pada tahun 2019 silam.
“Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting,” pungkas Will Lee. (ASR)




