KILASNETWORK.COM – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengukuhkan komitmennya dalam mendukung transportasi hijau nasional. Hanya dalam kurun waktu dua bulan sejak resmi mengadopsi bahan bakar B50 pada 1 Juli 2026, KAI mencatatkan pencapaian signifikan dengan berhasil memangkas emisi karbon hingga 10.000 ton dari seluruh operasional armada lokomotifnya.
Penggunaan B50—bahan bakar campuran minyak sawit murni—menjadi langkah strategis KAI dalam menekan angka gas rumah kaca (GRK) sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Vice President (VP) Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa efisiensi energi yang dihasilkan dari satu perjalanan rangkaian kereta api jauh melampaui kendaraan pribadi.
“Selama 2 bulan, kita sudah bisa mengurangi 9.000 sampai 10.000 ton emisi. Satu trainset kereta api dengan kapasitas 1.000 hingga 1.200 kursi menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih rendah. Perbandingannya, satu perjalanan rangkaian kereta setara dengan penghematan emisi dari 160 unit mobil pribadi atau 500 unit sepeda motor,” ujar Anne saat pemaparan efisiensi energi di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim, Jakarta (24/9/2026).
B50: Energi Terbarukan, Jernih, dan Ramah Lingkungan
Keunggulan B50 tidak hanya berdampak pada angka penurunan emisi, tetapi juga pada kualitas pembakaran mesin. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyoroti karakteristik fisik dan keunggulan ekologis dari bahan bakar ramah lingkungan ini.
“Visual bahan bakar B50 ini lebih bening dan jernih. Ini membuktikan tingkat emisi gas buang yang dihasilkan sangat rendah sehingga tidak menyebabkan polusi udara. Sebagai sumber energi terbarukan berbasis kelapa sawit, pasokannya dapat dibudidayakan secara berkelanjutan,” ungkap Roberth di Wisma Tugu, Jakarta (22/9/2026).
Untuk memastikan operasional berjalan lancar, Pertamina Patra Niaga rutin mendistribusikan pasokan B50 menggunakan armada truk tangki langsung ke tangki penyimpanan utama di Dipo Cipinang dan berbagai fasilitas perawatan kereta lainnya.
Transparansi Penghitungan Emisi dan Edukasi Penumpang
Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menambahkan bahwa penghitungan dekarbonisasi dilakukan secara terukur pada setiap sarana operasional.
“Pencatatan emisi kami hitung secara mendalam per lokomotif dan per kereta api pembangkit berdasarkan tingkat konsumsi bahan bakar bulanan,” jelas Franoto di Stasiun Cikini (23/9/2026).
Guna mengajak masyarakat bertransisi ke transportasi umum, KAI kini mencantumkan informasi jejak karbon pada setiap lembar tiket perjalanan. Langkah edukatif ini memberikan transparansi bagi penumpang mengenai besarnya kontribusi mereka dalam menekan angka emisi gas rumah kaca setiap kali memilih kereta api dibanding kendaraan pribadi.
Pencapaian penurunan puluhan ribu ton karbon ini mempertegas posisi KAI sebagai tulang punggung transportasi massal rendah emisi di Indonesia, sekaligus mempercepat langkah negara menuju target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. (YMZ)




