PBNU Berduka, Ulama Perempuan Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid Wafat di Usia 82 Tahun

KILASNETWORK.COM – Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin di seluruh pelosok negeri. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, wafat pada Ahad (4/10/2026) pukul 22.30 WIB di Kalibata, Jakarta, pada usia 82 tahun. Almarhumah yang merupakan putri dari pahlawan nasional sekaligus pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, dimakamkan di kompleks pemakaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (5/10/2026).

Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyampaikan rasa duka cita mendalam atas berpulangnya sosok ulama perempuan terkemuka tersebut. Menurutnya, Nahdlatul Ulama kehilangan figur ibu, guru, sekaligus sosok teladan utama.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Atas nama PBNU dan seluruh Nahdliyin, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid. NU kehilangan seorang ibu, guru, dan teladan, khususnya bagi perempuan Nahdliyin,” ungkap Gus Kikin.

Perjalanan Dedikasi dan Kiprah Pengabdian di Nahdlatul Ulama
Almarhumah Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid mencatatkan rekam jejak pengabdian panjang di badan otonom serta struktur PBNU:

BACA JUGA  Interpol Terbitkan Red Notice terhadap Buron Korupsi Riza Chalid

Kaderisasi & Kepemimpinan: Mengawali kiprah dari Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), pernah menjabat Ketua PW Fatayat NU DKI Jakarta, hingga dipercaya menjadi Ketua Umum PP Fatayat NU periode 1979–1989.

Inisiator Organisasi: Aktif dalam kepengurusan harian PP Muslimat NU, serta menginisiasi sekaligus memimpin Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat NU Pusat selama tiga periode berturut-turut sebelum menjadi Penasihat PP Muslimat NU.

Otoritas Keilmuan: Menjabat sebagai A’wan (Dewan Pakar) PBNU periode 2015–2021, hingga mengemban amanah tertinggi sebagai Mustasyar PBNU.

Di luar ranah jam’iyah, almarhumah mengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sejak 1994. Beliau juga pernah mendedikasikan diri sebagai anggota DPR RI selama tiga periode (1987–1992, 1997–1999, dan 2004–2009) dengan menerapkan fiqih siyasah yang berbasis etika keagamaan demi membela hak rakyat dan kaum perempuan.

Wasiat Keteladanan untuk Santri dan Nahdliyin
Semasa hidupnya, Nyai Hj. Machfudhoh senantiasa menanamkan pesan-pesan luhur kepada para santri dan warga NU, di antaranya untuk senantiasa ikhlas, istikamah dalam shalat berjamaah dan bershalawat, taat aturan pesantren, serta menjaga silaturahim dengan guru.

BACA JUGA  Dampak Tak Terukur, Kebijakan HGBT Bikin Pemerintah Kehilangan Puluhan Triliun

PBNU mengimbau seluruh jajaran pengurus dan warga Nahdliyin di mana pun berada untuk menggelar shalat ghaib serta pembacaan tahlil bagi almarhumah.

“Pesan-pesan itu sederhana, tetapi menjadi bekal hidup bagi santri dan warga NU. Semoga kita semua mampu melanjutkan keteladanan dan perjuangan beliau,” tutur Gus Kikin seraya mendoakan agar almarhumah diterima seluruh amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. (VEI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News