Harga Minyak Arab Light Dipangkas, Saudi Aramco Perkuat Perebutan Pasar Asia

KILASNETWORK.COM – Di tengah ketatnya persaingan pasar energi global dan tingginya biaya logistik, Saudi Aramco mengejutkan pelaku pasar dengan memangkas Harga Jual Resmi (Official Selling Price/OSP) minyak mentah jenis Arab Light untuk kawasan Asia pada pengiriman November 2026.

Langkah agresif ini mencatatkan tingkat diskon terbesar dalam lebih dari enam tahun terakhir, sekaligus membalikkan ekspektasi analis pasar yang sebelumnya memprediksi adanya kenaikan harga.

Saudi Aramco menetapkan harga Arab Light untuk pasar Asia sebesar US$5 per barel di bawah rata-rata acuan Oman/Dubai, atau turun tajam US$3 per barel dibandingkan periode Oktober. Berdasarkan data Reuters, ini merupakan diskon terdalam yang diberikan raksasa minyak asal Arab Saudi tersebut sejak Juni 2020.

Tak hanya Arab Light, pemangkasan harga sebesar US$5 per barel juga berlaku untuk jenis minyak Arab Medium dan Arab Heavy. Langkah ini diambil guna menjaga daya saing serta mengamankan pangsa pasar utama mereka di Asia dari tekanan lonjakan tarif angkutan laut dan gangguan rantai pasok akibat dinamika geopolitik.

BACA JUGA  PGN Tingkatkan Tata Kelola, Dorong Program Keberlanjutan, Berdayakan Masyarakat dan Lingkungan.

Divergensi Strategi: Asia Didiskon, Eropa Justru Naik
Berbanding terbalik dengan strategi di Asia, Saudi Aramco justru menaikkan OSP untuk pasar Eropa barat laut dan kawasan Mediterania sebesar US$3 per barel. Sementara itu, harga jual untuk pasar Amerika Serikat dipertahankan stabil tanpa perubahan.

Perbedaan strategi ini mencerminkan adaptasi Aramco terhadap kondisi logistik kawasan. Dimulainya kembali aktivitas ekspor melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu memperlancar pasokan ke Eropa, sedangkan di Asia, tingginya biaya pengiriman memaksa Riyadh memberikan pemotong harga ekstra agar kilang-kilang Asia tetap memprioritaskan pasokan dari Saudi.

OPEC+ Tahan Produksi, Strategi Harga Jadi Senjata Utama
Keputusan diskon besar-besaran ini diumumkan persis sehari setelah Arab Saudi bersama anggota OPEC+ sepakat mempertahankan kuota produksi minyak untuk November 2026.

Dengan target produksi yang ditahan ketat hingga akhir tahun, penyesuaian OSP menjadi instrumen taktis bagi Arab Saudi untuk mempertahankan dominasi tanpa merusak kesepakatan pemangkasan produksi kelompok tersebut.

Sinyal Potensi Perang Harga Minyak di Asia
Sebagai salah satu acuan (benchmark) utama bagi eksportir Timur Tengah, kebijakan OSP dari Saudi Aramco diprediksi akan membawa efek berantai (domino effect).

BACA JUGA  Bahlil Sinyalkan Harga Pertamax Turun, Bergantung pada Tren Minyak Dunia

Bagi Kilang Asia: Membaiknya margin pengolahan (refining margin) dan penurunan biaya bahan baku.

Bagi Produsen Pesaing: Tekanan besar bagi negara eksportir lain di Timur Tengah untuk ikut menyesuaikan harga agar tidak kehilangan pembeli di Asia.

Keputusan Riyadh memangkas harga hingga ke level terendah sejak era pandemi 2020 menandaskan satu pesan jelas: mempertahankan pangsa pasar Asia tetap menjadi prioritas strategis utama Kerajaan Arab Saudi. (ZJO)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News