KILASNETWORK.COM – Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melanda Jawa Timur sepanjang periode Agustus hingga September 2026. Data Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur mencatat total luas area yang terbakar mencapai 7.363,30 hektare.
Sebagian besar wilayah terdampak berada di kawasan konservasi, dengan Taman Nasional (TN) Baluran menjadi titik terluas yang dilahap si jago merah.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan bahwa sebaran karhutla ini mencakup tiga wilayah pengelolaan utama:
1. Kawasan Konservasi (Kementerian LHK / BBKSDA)
2. Hutan Produksi dan Lindung (Perum Perhutani)
3. Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo (Pemprov Jatim)
“Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan, memang kebakaran ini terjadi di wilayah Perhutani dan taman nasional. Di dua wilayah ini kita berkoordinasi dengan instansi yang berwenang di masing-masing lokasi,” ujar Emil usai rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (19/10/2026).
Rincian Sebaran Area Terbakar di Jawa Timur
Dampak kebakaran hutan di Jawa Timur terbagi ke dalam beberapa sektor pengelolaan, antara lain:
Kawasan Konservasi (5.814,90 Ha / ~79%):
Menjadi area terdampak terluas yang mencakup empat taman nasional dan wilayah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jatim. TN Baluran mencatat kerusakan paling parah dengan luas mencapai 2.970,05 hektare. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat peran vitalnya dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Kawasan Perhutani (1.031,95 Ha / ~14%):
Meliputi hutan produksi dan hutan lindung. Karena berbatasan langsung dengan pemukiman warga, penanganan di area ini membutuhkan sinergi ketat guna mencegah gesekan sosial.
Tahura Raden Soerjo (516,45 Ha / ~7%):
Berada di bawah wewenang Pemprov Jatim (Kabupaten Mojokerto). Sebanyak 422,20 hektare di antaranya berasal dari satu peristiwa kebakaran besar sepanjang Agustus–September.
Tantangan Medan Terjal dan Titik Api Sulit Dijangkau
Penanganan karhutla di kawasan Tahura Raden Soerjo menghadapi kendala berat akibat kondisi geografis. Banyak titik panas berada di ketinggian ekstrem dan medan yang terjal, sehingga sulit ditembus melalui jalur darat.
Saat ini, sebanyak 53 personel Manggala Agni dan Polisi Kehutanan telah dikerahkan ke lapangan. Tim fokus melakukan patroli serta membuat penyekatan (perimeter) guna mencegah kobaran api merembet ke kawasan permukiman.
“Kebakaran terjadi di ketinggian yang luar biasa dan tidak bisa dijangkau oleh petugas. Pertanyaannya, dari mana apinya? Kalau petugas saja tidak bisa menjangkau, siapa yang ke sana? Sekarang fokus kita adalah membuat perimeter agar api tidak melebar,” kata Emil.
Opsi Pemadaman Udara (Water Bombing) dan Keselamatan Tim
Melihat sulitnya akses darat, Pemprov Jatim berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengupayakan opsi pemadaman dari udara atau water bombing.
Meski demikian, Emil mengungkapkan bahwa armada pemadaman udara prioritas nasional saat ini masih difokuskan untuk menangani karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Pemprov Jatim menegaskan bahwa keselamatan seluruh personel di lapangan tetap menjadi prioritas utama selama proses pemadaman berlangsung.
“Tidak boleh ada petugas yang menjadi korban. Safety tetap prioritas nomor satu. Kita tahu situasinya ada fokus di Kalimantan dan Sumatra, tetapi kita terus berkoordinasi dengan BNPB untuk bisa mengakses pemadaman via udara,” pungkas Emil. (IAK)




